Minggu, 13 Januari 2013

Bahasa


Bahasa adalah sistem lambang bunyi ujaran yang digunakan untuk berkomunikasi oleh masyarakat pemakainya. Bahasa yang baik berkembang berdasarkan suatu sistem, yaitu seperangkat aturan yang dipatuhi oleh pemakainya. Bahasa sendiri berfungsi sebagai sarana komunikasi serta sebagai sarana integrasi dan adaptasi.

Berikut ini adalah pengertian dan definisi bahasa menurut para ahli:
# BILL ADAMS
Bahasa adalah sebuah sistem pengembangan psikologi individu dalam sebuah konteks inter-subjektif
# WITTGENSTEIN
Bahasa merupakan bentuk pemikiran yang dapat dipahami, berhubungan dengan realitas, dan memiliki bentuk dan struktur yang logis
# FERDINAND DE SAUSSURE
Bahasa adalah ciri pembeda yang paling menonjol karena dengan bahasa setiap kelompok sosial merasa dirinya sebagai kesatuan yang berbeda dari kelompok yang lain
# PLATO
Bahasa pada dasarnya adalah pernyataan pikiran seseorang dengan perantaraan onomata (nama benda atau sesuatu) dan rhemata (ucapan) yang merupakan cermin dari ide seseorang dalam arus udara lewat mulut
# BLOCH & TRAGER
Bahasa adalah sebuah sistem simbol yang bersifat manasuka dan dengan sistem itu suatu kelompok sosial bekerja sama.
# CARROL
Bahasa adalah sebuah sistem berstruktural mengenai bunyi dan urutan bunyi bahasa yang sifatnya manasuka, yang digunakan, atau yang dapat digunakan dalam komunikasi antar individu oleh sekelompok manusia dan yang secara agak tuntas memberi nama kepada benda-benda, peristiwa-peristiwa, dan proses-proses dalam lingkungan hidup manusia
# SUDARYONO
Bahasa adalah sarana komunikasi yang efektif walaupun tidak sempurna sehingga ketidaksempurnaan bahasa sebagai sarana komunikasi menjadi salah satu sumber terjadinya kesalahpahaman.
# SAUSSURE
Bahasa adalah objek dari semiologi

Fungsi bahasa
Fungsi utama bahasa, seperti disebutkan di atas, adalah sebagai alat komunikasi, atau sarana untuk menyampaikan informasi (fungsi informatif).
Tetapi, bahasa pada dasarnya lebih dari sekadar alat untuk menyampaikan informasi, atau mengutarakan pikiran, perasaan, atau gagasan, karena bahasa juga berfungsi:
a.untuk tujuan praktis: mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari.
b.untuk tujuan artistik: manusia mengolah dan menggunakan bahasa dengan seindah-indahnya guna pemuasan rasa estetis manusia.
c.sebagai kunci mempelajari pengetahuan-pengetahuan lain, di luar pengetahuan kebahasaan.
d.untuk mempelajari naskah-naskah tua guna menyelidiki latar belakang sejarah manusia, selama
kebudayaan dan adat-istiadat, serta perkembangan bahasa itu sendiri (tujuan filologis).
Dikatakan oleh para ahli budaya, bahwa bahasalah yang memungkinkan kita membentuk diri sebagaimakhluk bernalar, berbudaya, dan berperadaban. Dengan bahasa, kita membina hubungan dan kerja sama,mengadakan transaksi, dan melaksanakan kegiatan sosial dengan bidang dan peran kita masing-masing.Dengan bahasa kita mewarisi kekayaan masa lampau, menghadapi hari ini, dan merencanakan masa depan.
Jika dikatakan bahwa setiap orang membutuhkan informasi itu benar. Kita ambil contoh, misalnya,mahasiswa. Ia membutuhkan informasi yang berkaitan dengan bidang studinya agar lulus dalam setiapujian dan sukses meraih gelar atau tujuan yang diinginkan. Seorang dokter juga sama. Ia memerlukaninformasi tentang kondisi fisik dan psikis pasiennya agar dapat menyembuhkannya dengan segera.Contoh lain, seorang manager yang mengoperasikan, mengontrol, atau mengawasi perusahaan tanpainformasi tidak mungkin dapat mengambil keputusan atau menentukan kebijakan. Karena setiap orang membutuhkan informasi, komunikasi sebagai proses tukar-menukar informasi, dengan sendirinya bahasa juga mutlak menjadi kebutuhan setiap orang.
Karakteristik Bahasa
·         Bahasa Bersifat Abritrer
Bahasa bersifat abritrer artinya hubungan antara lambang dengan yang dilambangkan tidak bersifat wajib, bisa berubah dan tidak dapat dijelaskan mengapa lambang tersebut mengonsepi makna tertentu. Secara kongkret, alasan “kuda” melambangkan ‘sejenis binatang berkaki empat yang bisa dikendarai’ adalah tidak bisa dijelaskan.
Meskipun bersifat abritrer, tetapi juga konvensional. Artinya setiap penutur suatu bahasa akan mematuhi hubungan antara lambang dengan yang dilambangkannya. Dia akan mematuhi, misalnya, lambang ‘buku’ hanya digunakan untuk menyatakan ‘tumpukan kertas bercetak yang dijilid’, dan tidak untuk melambangkan konsep yang lain, sebab jika dilakukannya berarti dia telah melanggar konvensi itu.
·         Bahasa Bersifat Produktif
Bahasa bersifat produktif artinya, dengan sejumlah besar unsur yang terbatas, namun dapat dibuat satuan-satuan ujaran yang hampir tidak terbatas. Misalnya, menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan WJS. Purwadarminta bahasa Indonesia hanya mempunyai kurang lebih 23.000 kosa kata, tetapi dengan 23.000 buah kata tersebut dapat dibuat jutaan kalimat yang tidak terbatas.
·         Bahasa Bersifat Dinamis
Bahasa bersifat dinamis berarti bahwa bahasa itu tidak lepas dari berbagai kemungkinan perubahan sewaktu-waktu dapat terjadi. Perubahan itu dapat terjadi pada tataran apa saja: fonologis, morfologis, sintaksis, semantic dan leksikon. Pada setiap waktu mungkin saja terdapat kosakata baru yang muncul, tetapi juga ada kosakata lama yang tenggelam, tidak digunakan lagi.
·         Bahasa Bersifat Beragam
Meskipun bahasa mempunyai kaidah atau pola tertentu yang sama, namun karena bahasa itu digunakan oleh penutur yang heterogen yang mempunyai latar belakang sosial dan kebiasaan yang berbeda, maka bahasa itu menjadi beragam, baik dalam tataran fonologis, morfologis, sintaksis maupun pada tataran leksikon. Bahasa Jawa yang digunakan di Surabaya berbeda dengan yang digunakan di Yogyakarta. Begitu juga bahasa Arab yang digunakan di Mesir berbeda dengan yang digunakan di Arab Saudi.
·         Bahasa Bersifat Manusiawi
Bahasa sebagai alat komunikasi verbal, hanya dimiliki manusia. Hewan tidak mempunyai bahasa. Yang dimiliki hewan sebagai alat komunikasi, yang berupa bunyi atau gerak isyarat, tidak bersifat produktif dan dinamis. Manusia dalam menguasai bahasa bukanlah secara instingtif atau naluriah, tetapi dengan cara belajar. Hewan tidak mampu untuk mempelajari bahasa manusia, oleh karena itu dikatakan bahwa bahasa itu bersifat manusiawi.
Sumber:

Sejarah bahasa Indonesia


1)    Perkembangan Bahasa Indonesia Sebelum Merdeka

Pada dasarnya Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Pada zaman Sriwijaya, bahasa Melayu di pakai sebagai bahasa penghubung antar suku di Nusantara dan sebagai bahasa yang di gunakan dalam perdagangan antara pedagang dari dalam Nusantara dan dari luar Nusantara.

Perkembangan dan pertumbuhan Bahasa Melayu tampak lebih jelas dari berbagai peninggalan-peninggalan misalnya:
  • Tulisan yang terdapat pada batu Nisan di Minye Tujoh, Aceh pada tahun 1380
  • Prasasti Kedukan Bukit, di Palembang pada tahun 683.
  • Prasasti Talang Tuo, di Palembang pada Tahun 684.
  • Prasasti Kota Kapur, di Bangka Barat, pada Tahun 686.
  • Prasati Karang Brahi Bangko, Merangi, Jambi, pada Tahun 688.

Dan pada saat itu Bahasa Melayu telah berfungsi sebagai:
  1. Bahasa kebudayaan yaitu bahasa buku-buku yang berisia aturan-aturan hidup dan sastra.
  2. Bahasa perhubungan (Lingua Franca) antar suku di indonesia
  3. Bahasa perdagangan baik bagi suku yang ada di Indonesia maupun pedagang yang berasal dari luar indonesia.
  4. Bahasa resmi kerajaan.

Bahasa melayu menyebar ke pelosok Nusantara bersamaan dengan menyebarnya agama Islam di wilayah Nusantara, serta makin berkembang dan bertambah kokoh keberadaannya karena bahasa Melayu mudah di terima oleh masyarakat Nusantara sebagai bahasa perhubungan antar pulau, antar suku, antar pedagang, antar bangsa dan antar kerajaan. Perkembangan bahasa Melayu di wilayah Nusantara mempengaruhi dan mendorong tumbuhnya rasa persaudaraan dan rasa persatuan bangsa Indonesia, oleh karena itu para pemuda indonesia yang tergabung dalam perkumpulan pergerakan secara sadar mengangkat bahasa Melayu menjadi bahasa indonesia menjadi bahasa persatuan untuk seluruh bangsa indonesia. (Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928).

2) Perkembangan Bahasa Indonesia Sesudah Merdeka
Bahasa Indonesia lahir pada tanggal 28 Oktober 1928. Pada saat itu, para pemuda dari berbagai pelosok Nusantara berkumpul dalam rapat, para pemuda berikrar:
  1. Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Air Indonesia.
  2. Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia.
  3. Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Ikrar para pemuda ini di kenal dengan nama “Sumpah Pemuda”. Unsur yang ketiga dari “Sumpah Pemuda” merupakan pernyataan tekad bahwa bahasa indonesia merupakan bahasa persatuan bangsa indonesia. Pada tahun 1928 bahasa Indonesia di kokohkan kedudukannya sebagai bahasa nasional. Bahasa Indonesia di nyatakan kedudukannya sebagai bahasa negara pada tanggal 18 Agustus 1945, karena pada saat itu Undang-Undang Dasar 1945 di sahkan sebagai Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Di dalam UUD 1945 di sebutkan bahwa “Bahasa Negara Adalah Bahasa Indonesia,(pasal 36). Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, telah mengukuhkan kedudukan dan fungsi bahasa indonesia secara konstitusional sebagai bahasa negara. Kini bahasa indonesia di pakai oleh berbagai lapisan masyarakat indonesia.

Peresmian Nama Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia dan bahas persatuan bangsa indonesia. Bahasa indonesia di resmikan penggunaannya setelah Proklamasi Kemerekaan Indonesia, tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi. Di Timor Leste, Bahasa Indonesia berposisi sebagi bahasa kerja. Dari sudut pandang Linguistik, bahasa indonesia adalah salah satu dari banyak ragam bahasa Melayu. Dasar yang dipakai adalah bahasa Melayu-Riau dari abad ke-19.

Dalam perkembangannya ia mengalami perubahan akibat penggunaannya sebagi bahasa kerja di lingkungan administrasi kolonial dan berbagai proses pembakuan sejak awal abad ke-20. Penamaan “Bahasa Indonesia” di awali sejak di canangkannya Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, untuk menghindari kesan “Imperialisme bahasa” apabila nama bahasa Melayu tetap di gunakan.

Proses ini menyebabkan berbedanya Bahasa indonesia saat ini dari varian bahasa Melayu yang di gunakan di Riau maupun Semenanjung Malaya. Hingga saat ini, bahasa indonesia merupakan bahasa yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan maupun penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa asing. Meskipun di pahami dan di tuturkan oleh lebih dari 90% warga indonesia, bahasa indonesia bukanlah bahasa ibu bagi kebanyakan penuturnya. Sebagian besar warga indonesia menggunakan salah satu dari 748 bahasa yang ada di indonesia sebagai bahasa Ibu. Penutur Bahasa indonesia kerap kali menggunakan versi sehari-hari (kolokial) atau mencampur adukkan dengan dialek Melayu lainnya atau bahasa Ibunya.

Meskipun demikian , bahasa indonesia di gunakan di gunakan sangat luas di perguruan-perguruan. Di media massa, sastra, perangkat lunak, surat-menyurat resmi, dan berbagai forum publik lainnya, sehingga dapatlah dikatakan bahwa bahasa indonesia di gunakan oleh semua warga indonesia. Bahasa Melayu dipakai dimana-mana diwilayah nusantara serta makin berkembang dengan dan bertambah kukuh keberadaannya. Bahasa Melayu yang dipakai didaerah-daerah diwilayah nusantara dalam pertumbuhan dipengaruhi oleh corak budaya daerah. Bahasa Melayu menyerap kosa kata dari berbagai bahasa, terutama dari bahasa sanskerta, bahasa Persia, bahasa Arab, dan bahasa-bahasa Eropa.

Bahasa Melayu pun dalam perkembangannya muncul dalam berbagai variasi dan dialek. Perkembangan bahasa Melayu diwilayah nusantara mempengaruhi dan mendorong tumbuhnya rasa persaudaraan dan persatuan bangsa Indonesia. Komikasi rasa persaudaraan dan persatuan bangsa Indonesia. Komunikasi antar perkumpulan yang bangkit pada masa itu menggunakan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia, yang menjadi bahasa persatuan untuk seluruh bangsa Indonesia dalam sumpah pemuda 28 Oktober 1928. Untuk memperoleh bahasa nasionalnya, Bangsa Indonesia harus berjuang dalam waktu yang cukup panjang dan penuh dengan tantangan.

Perjuagan demikian harus dilakukan karena adanya kesadaran bahwa di samping fungsinya sebagai alat komunikasi tunggal, bahasa nasional sebagai salah satu ciri cultural, yang ke dalam menunjukkan sesatuan dan keluar menyatakan perbedaan dengan bangsa lain.

Ada empat faktor yang menyebabkan Bahasa melayu diangkat menjadi bahasa Indonesia, yaitu:
  1. Bahasa melayu adalah merupakan Lingua Franca di Indonesia, bahasa perhubungan dan bahasa perdagangan.
  2. Sistem bahasa melayu sederhana, mudah di pelajari karena dalam bahasa melayu tidak di kenal tingkatan bahasa (bahasa kasar dan bahasa halus).
  3. Suku Jawa, Suku Sunda, dan Suku2 yang lainnya dengan sukarela menerima bahasa melayu menjadi bahasa indonesia sebagai bahasa nasional.
  4. Bahasa melayu mempunyai kesanggupan untuk di pakai sebagai bahasa kebudayaan dalam arti yang luas.
   Bahasa Indonesia  di Kancah Internasional
Pada akhir tahun 2010, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia secara terbuka mengusulkan agar bahasa Indonesia menjadi salah satu bahasa resmi ASEAN. Setahun sebelumnya, delegasi DPR RI juga telah mengutarakan usul serupa. Indonesia pun secara resmi telah mengusulkan amandemen statuta ASEAN Inter Parliamentary Assembly (AIPA) agar bahasa Indonesia masuk dalam bahasa kerja AIPA, tentu saja selain Bahasa Inggris.

Pejabat Kementerian Luar Negeri Indonesia menyatakan ada sekitar 45 negara di dunia yang mengajarkan bahasa Indonesia di sekolah-sekolah luar negeri, misalnya Australia, Amerika Serikat, Kanada dan Vietnam. Di Australia, bahasa Indonesia menjadi bahasa populer keempat di mana tercatat sekitar 500 sekolah yang mengajarkan bahasa Indonesia. Di Vietnam, sejak akhir 2007, Pemerintah Daerah Ho Chi Minh City telah mengumumkan secara resmi bahasa Indonesia menjadi bahasa kedua. Jadilah Vietnam sebagai anggota ASEAN pertama yang menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi kedua di negaranya. Bahasa Indonesia di Vietnam disejajarkan dengan bahasa Inggris, Prancis, dan Jepang, sebagai bahasa kedua yang diprioritaskan.

Bahasa Indonesia akan menjadi komoditas politik luar negeri untuk mencari dan menguatkan posisi Indonesia di kancah internasional. Hal itu tidak salah, bahkan menunjukkan “keunggulan” bahasa Indonesia. Tetapi, tindakan tersebut perlu dibarengi dengan penguatan penguasaan bahasa Indonesia di dalam negeri. Dengan penguatan bahasa Indonesia di semua lini kehidupan akan menciptakan bahasa Indonesia yang prima. Selain itu, negara pun mesti mendorong secara aktif upaya alihbahasa karya-karya intelektual Indonesia ke dalam bahasa internasional agar masyarakat dunia mengenali kualifikasi para pengguna bahasa Indonesia dan tertarik untuk mempelajari. Kita harus mengakui bahwa saat ini bahasa Indonesia belum menduduki peringkat diidolakan sebagai bahasa utama dari dunia akademik sampai dunia hiburan. 

Sumber:

Senin, 07 Januari 2013

Tiga Pria Pendaki Gunung, Pecinta Laut

Gunung adalah salah satu ciptaan Allah SWT yang paling indah di muka bumi ini, tingginya ribuan meter diatas permukaan laut, sekitar gunung yang dilindungi oleh jutaan pohon, dan ribuan hewan liar membuat keindahan gunung selalu indah untuk dinikmati. Di Depok salah satu kota kecil daerah Jawa Barat ada tiga sahabat yang cinta sekali dengan alam, mereka adalah Igghi, Alay, dan Koso. Mereka bersahabat sejak duduk dibangku SMP, mulai SMA mereka mengikuti ekstrakulikuler pecinta alam. Sejak SMA hingga kuliah semester 4 mereka sudah berhasil mendaki gunung Pangrango, gunung Bromo, dan gunung Semeru ditengah kesibukan perkuliahan mereka masih menyempatkan waktu untuk memberi pelatihan dan pelajaran ke adik-adik kelasnya di SMA tentang mendaki gunung, climbing, dan hal-hal yang berkaitan dengan pecinta alam.
Igghi, Alay, dan Koso merasa dikecintaan mereka akan alam harus ditanamkan dihati dan benak semua orang di Indonesia pada khususnya karena semakin lama alam Indonesia semakin rusak dan tak terurus karena ulah manusia yang tidak bertanggung jawab.
“Kita harus buat suatu gebrakan nih” ujar Koso
“Gebrakan apa ? Gebrak meja hahhahaa” cetus Igghi
“Bukan Gi, tapi kita harus makin gencar nih ngajak para masyarakat agar lebih cinta dengan alam”
“Contohnya gimana ? Susahlah kalau cuma kita bertiga”  ucap Alay
“Kita kerjasama aja para pecinta alam yang lain, kalau bisa sama menteri kehutanan” jawab Igghi
“Boleh tuh, kita coba kerjasama aja para pecinta alam yang lain aja dulu” ujar Koso
***
Igghi salah satu anak yang aktif di organisasi kampus, Igghi mulai mempromosikan, menjelaskan tentang kondisi alam Indonesia sekarang seperti apa. Banyak teman Igghi yang peduli dan ingin ikut bergabung dengan kegiatan pecinta alam. Suatu ketika Igghi sedang browsing di dunia maya tentang laut di Indonesia, Pulau Tidung salah satunya yang Igghi pelajari medan dan lingkungannya kemudian Igghi cerita dengan Alay di warung Bude. Warung tempat mereka suka berkumpul.
“Lay, kita anak pecinta alam kan ?” tanya Igghi
“Iyalah, kenapa pertanyaan aneh banget sih ?” jawab Alay sambil makan pisang goreng
“Kita udah bisa naklukin 3 gunung, tapi belum naklukin atau ke lautkan,belum lengkap rasanya”
“Oh iya ya, bener juga Gi. Terus kapan kita mau ke laut ?”
“Bulan depan gimana ?”
“Siap, kabarinin Koso juga Gi jangan lupa”
“Pastilah. Eh ajakin yang lain Lay, biar makin seru dan rame”
“Bereeessss...”
***
Hari yang dinantipun tiba, mereka berkumpul dan janjian di Muara Angke pukul 05.15 karena kapal yang akan menyebrang ke Pulau Tidung sebelum matahari terbit. Dengan pengetahuan yang masih minim dan tekat yang menggebu-gebu merekapun berangkat menyebrang pulau.
Sepanjang jalan mereka bersenda gurau, menikmati perjalanan, dan menyiapkan diri dengan medan baru yang akan mereka lalui. Tibalah mereka di Pulau Tidung dan disambut dengan keramahan warga sekitar. Mereka langsung mencari homestay yang nyaman dan harganya terjangkau bagi kantung mahasiswa.
“Huh, akhirnya kita sampe juga di pulau orang, hahaha” Cetus Koso
“Ide lu gila Gi, kita yang dasarnya anak gunung jadi anak pantai gini hahaaha” Ucap Alay
“Sekali-kalilah kita beralih profesi dari anak gunung hahhahha. Ternyata untuk jadi anak pantai medannya engga seberat naik gunung” kata Igghi
“Besok rencana kita kemana Gi ?” tanya Alay
“Jalan-jalan aja kita liat-liat pemandangan disini” jawab Igghi
“Udah-udah besok aja kita omongin lagi, udah malem nih capek tidur duluan yaa” ujar Koso
“Yaaahhh telap dia hahahaha” canda Igghi
Hari ini matahari bersinar begitu cerah, Igghi, Alay, dan Koso menikmati indahnya matahari terbit dari balkon homestay yang mereka tempati.
“Haaaahhh, keren banget nih tempat” ucap Alay
“Jalan-jalan yuk ke sana” ujar Igghi sambil menunjuk suatu tempat
“Yuuukk” jawab Koso dan Alay secara berbarengan
 Ternyata tempat itu berupa jembatan yang cukup panjang, jembatan itu dikenal dengan nama jembatan cinta. Merekapun mengunjungi beberapa perumahan warga dan berbincang dengan para warga disekitar sana.
Tidak terasa matahari sudah menampakkan sinarnya yang mulai meredup Igghi, Alay, dan Koso bergegas ke pinggir pantai untuk menikmati matahari tenggelam.
“Damai banget disini, suara kicauan burung, desiran ombak, aaahhhh ga ternilai harganya” ujar Igghi
“Bener banget Gi, rasanya besok ga mau pulang masih mau disini” ucap Alay
“Sama, tapi 2 hari lagi UTS kalau engga balik mau jadi apa nilai semester ini” cetus Koso
Mataharipun sudah tenggelam dan berganti bulan dan bintang-bintang kecil berada dilangit yang gelap. Igghi, Alay, dan Koso tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini mereka langsung menyiapkan kayu bakar dan menangkap beberapa kepiting, dan ikan disekitar pantai, lalu mereka membakarnya. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 01.01 lantas mereka menuju homestay untuk beristirahat karena besok mereka akan kembali ke Depok.
***
Kicauan burung dan desiran ombak merupakan suara yang paling indah dikala pagi di pulau Tidung, dan mereka mulai membereskan pakaian dan peralatan yang mereka bawa. Kapal yang akan mereka tumpangi juga sudah siap untuk kempali ke Muara Angke.
“Gi, kita harus balik ke pulau ini kapan-kapan, kita belum surfing, diving, naik banana boat, pokoknya masih banyak yang belum kita cobain” ujar Koso
“Ya, kapan-kapan kita kesini lagi kalau perlu kita ke pantai lain yang pemandangannya lebih indah dari pulau Tidung” jawab Igghi
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya mereka sampai di kota Depok. Pengalaman dan kecintaan mereka terhadap laut mereka bagi dengan teman-teman di kampus mereka.
***
Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat, minggu depan mereka bertiga sudah memasuki liburan panjang akhir semester. Misi mereka untuk menanamkan kecintaan akan alam sepertinya akan terwujud pada bulan ini karena kumpulan pecinta alam se-Indonesia akan mengadakan seminar dan roadshow yang akan membahas tentang alam Indonesia, mulai dari pegunungan, lautan, hingga pulau-pulau indah di Indonesia. Igghi, Alay, dan Koso menjadi salah satu dari ratusan panitia yang berperan besar diacara tersebut. Seminar dan roadshow dilaksanakan dibeberapa kota di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Medan, Bali, dan Makasar yang berlangsung selama dua bulan. Disetiap kota yang mereka kunjungi, para panitia tidak ketinggalan mendatangi tempat-tempat yang memiliki keindahan yang luar biasa seperti pantai, dan pegunungan. Setelah misi mereka tercapai mereka melakukan perjalanan ke pulau Sawarna selama lima hari, keindahan pulau Sawarna dengan air yang berwarna biru, pasir putih, dan Tanjung Layar sebagai salah satu tempat favorit yang wajib dikunjungi di Sawarna menambah kecintaan mereka akan alam Indonesia.
Tak puas dengan itu mereka kemudian mendaki gunung Salak yang dilakukan selama dua minggu. Setelah pulang dari Sawarna dan gunung Salak kecintaan mereka akan alam Indonesia semakin bertambah, hingga mereka berjanji akan menjaga dan melestarikan alam Indonesia yang tak ternilai harganya seperti menjaga persahaban mereka yang telah mereka jalin sejak SMP hingga maut yang akan memisahkan persahabatan mereka.